SEPENINGGAL Bung Karno misteri pusaka yang digunakan proklamator itu pun satu per satu terkuak. Apa saja pusaka yang pernah dimiliki? Apa pula tuahnya?
Ketika bangsa Indonesia sedang berada pada masa perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah Belanda, Bung Karno pernah secara diam - diam beranjangsana dengan Raja Karaton Kasunanan Surakarta pada sekitar tahun 1930-an.
Pada saat itu yang menjadi raja adalah SISKS Pakoe Boewana X, dimana di Ndalem Parang Karso (tempat penerimaan tamu negara) beliau menganugerahkan (meminjamkan?) dua buah pusaka Karaton Kasunanan yaitu Kanjeng Kyai Lepet dan Kanjeng Kyai Lawi.
Kanjeng Kyai Lepet berbentuk sebilah pedang yang panjangnya bilahnya sekitar 60 cm, berpamor adeg (pamor garis tegak lurus dari pangkal pedang) berhiaskan 5 buah bolang. Bolang adalah pamor berbentuk setengah lingkaran yang terletak pada sisi tajam pedang. Kanjeng Kyai Lepet ini bertangguh Pakoe Boewana IV (diperkirakan dibuat pada saat Pakoe Boewana IV bertahta)
Pusaka yang satunya, Kanjeng Kyai Lawi juga berbentuk sebilah pedang, dengan ukuran yang lebih pendek. Dengan pamor pulo tirto, tanpa dihiasi bolang, bertangguh Majapahit.
Tidak ada kejelasan bagaimana tuah kedua pusaka tersebut. Yang jelas, banyak sekali Bung Karno dianugerahi pusaka pusaka Keraton, itu baru yang dari keraton di Jawa entah berapa lagi pusaka Bung Karno dari kerajaan - kerajaan di luar Jawa.
Pada masa akhir pemerintahan Bung Karno, kedua pusaka tersebut (Kanjeng Kyai Lepet dan Kanjeng Kyai Lawi) dikembalikan lagi ke Karaton Surakarta.
Dari cangkul sampai pedang bersarung emas berlian. Hampir sepanjang 35 tahun sejumlah pusaka Bung Karno hanya menjadi pembicaraan bisik2. Tak ada yang tahu pasti, berapa banyak jumlahnya, dan dimana kini disimpan.
Namun setelah era reformasi, yang diawali dengan tumbangnya ode baru, misteri keberadaan pusaka dan juga koleksi lukisan warisan Bung Karno mulai terkuak, bahwa jumlah resmi pusaka sebanyak 178 buah.
Dari sejumlah pusaka peninggalan itu tak semua berbentuk tosan aji, seperti :
- Tongkat
- Seperangkat panah dengan gendewanya
- Cangkul
- Rencong dari Aceh
- Panah dari Papua
- Pedang dari Raja Ibnu Saud Saudi Arabia, selain indah, sarung pedang ini dihiasi berlian dan permata.
Bung Karno tak pernah berburu keris untuk melengkapi koleksinya. Bung Karno hanya diberi pisungsun (persembahan) dari rakyatnya.
Pada zaman Megawati memimpin negara, semua pusaka dicari kembali dan dihitung. Tak semuanya dalam kondisi baik. Dari sejumlah tongkat yg dulu dipakai Bung Karno, misalnya, beberapa diataranya rusak, gagang tongkat yg berbentuk burung garuda, kelihatannya agak rusak.
Ada sebuah keris yg berwarangka dan bergagang emas, hilang dari istana, dan ketika dilacak dan diselidiki oleh aparat kepolisian, pendok dan deder keris tsb sudah tak berbentuk lagi. Yang diketemukan hanyalah gelang dan kalung emas. Karena pendhok dan gagang itu sudah dilebur menjadi benda perhiasan. (doko)
Saturday, May 25th
Last update06:37:45 AM GMT
Headlines:











